METODEPENGKAJIAN . 3.1. Pendekatan Penelitian . Pendekatan dalam penelitian ini yakni . menggunakan. pendekatan kualitatif. Moleong (2011) mengungkapkan bahwa, pengkajian kualitatif dilakukan secara . holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dalam suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
PengkajianKursi Melalui Aspek Statika Produk. Ayu Nurmalita. Download PDF. Download Full PDF Package. This paper. A short summary of this paper. 31 Full PDFs related to this paper. Read Paper. Download PDF. Download Full PDF Package.
. Pengertian, Jenis, dan Unsur Seni Visual - Berbicara tentang seni memang tak akan ada habisnya. Karena, seni adalah salah satu wujud ekspresi dari seseorang yang dituangkan ke dalam bentuk imajinasi. Dimana didalamnya mengandung unsur cerita, keindahan, dan curahan hati dari si pembuat karya seni itu.
A Konsep. Dalam menganalisis karya seni rupa aspek konsep berkaitan dengan aktivitas pengamatan karya seni untuk menemukan sumber inspirasi, interes seni, interes bentuk, penerapan prinsip estetik, dan pengkajian aspek visual, seperti struktur rupa, komposisi, dan gaya pribadi. B. Unsur.
Pengkajianmelalui aspek visual berarti - 14682602. Jesikanovitanti Jesikanovitanti 05.03.2018 Seni Sekolah Menengah Atas terjawab Pengkajian melalui aspek visual berarti 1 Lihat jawaban Iklan Iklan aminfaisal2 aminfaisal2 Masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan.
BerceritaMelalui Visual Itu Penting! A visual narrative (also visual storytelling) is a story told primarily through the use of visual media. Terdapat ungkapan asing yang mengatakan, " picture speaks louder ". Banyak penggiat visual yang acap kali menggunakan quote di atas untuk menggambarkan bahwa visual (gambar) memiliki makna yang luar biasa.
Ambisius 22 jawaban. 8.3 rb orang terbantu. Aspek visual adalah aspek pertama yang berhubungan dengan manusia ketika ia harus berinteraksi dengan sebuah produk pakai, baik dalam waktu yang sekejap sekalipun ataupun dalam waktu yang relatif lama. rosariomividaa3 dan 43 orang menganggap jawaban ini membantu. heart outlined.
Penciptaanseni rupa murni adalah kegiatan menciptakan sebuah karya seni untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman kehidupan, menjadi perwujudan visual yang dilandasi kepekaan artistik. Menurut buku Pelajaran Seni Budaya SMA Kelas X karya Drs. Sumardi dkk (2010: 14), terdapat dua aspek dalam penciptaan karya seni rupa murni, yaitu
Visualadalah syarat mutlak untuk memperkenalkan sebuah brand pada konsumen. Visual adalah komponen yang terlihat pada saat aplikasi dijalankan. Visual merupakan salah satu cara mengorganisasikan pemikiran dan meningkatkan kemampuan berpikir dan komunikasi. Visual merupakan bagian penting dalam proses pembentukan dialog budaya.
BAB 2. Pengkajian Seni Rupa. Proses pengkajian seni rupa dengan pendekatan saintifik. (mengamati, menanyakan, mencoba, menalar, dan menyajikan) mencakup aspek visual (menguraikan keberadaan rupa dengan. kata-kata), aspek proses kreasi seni (menguraikan tahapan teknis. penciptaan, skill atau keterampilan), aspek konseptual (menemukan.
DzCA. This article tries to map out the structuralist and poststructuralist theories as the basis of theater studies. So far, the studies of theater performed by theater academics have always been based on structuralist views; examining aspects of form, meaning, style and exclude the human aspects as forming agents of the structure. Structuralist view is antihumanist. It says that the sign has meaning when it is associated with other signs in a systematic unity of structure and not from its relation to the individu artists. According to poststructuralist view, it is very possible to do a cultural study of theatrical text by looking at the interrelationship between one text and another outside, including social, cultural, literary, political, and other texts that are present randomly and overlapping juxtaposition. Therefore, this theoretical mapping needs to be done in order to enrich the theater academics to conduct theater performances studies, theoretical map, structuralist, poststructuralist Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 129Wahyu Novianto Peta Teoritik Pengkajian Teater Dari Teori Strukturalis Sampai PostrukturalisVolume 11 No. 2 Desember 2019PETA TEORITIK PENGKAJIAN TEATER DARI TEORI STRUKTURALIS SAMPAI POSTRUKTURALISWahyu NoviantoJurusan Pedalangan, Fakultas Seni PertunjukanInstitut Seni Indonesia ISI SurakartaEmail wahyunovianto This article tries to map out the structuralist and poststructuralist theories as the basis of theater studies. So far, the studies of theater performed by theater academics have always been based on structur-alist views; examining aspects of form, meaning, style and exclude the human aspects as forming agents of the structure. Structuralist view is antihumanist. It says that the sign has meaning when it is associated with other signs in a systematic unity of structure and not from its relation to the individu artists. Ac-cording to poststructuralist view, it is very possible to do a cultural study of theatrical text by looking at the interrelationship between one text and another outside, including social, cultural, literary, political, and other texts that are present randomly and overlapping juxtaposition. Therefore, this theoretical mapping needs to be done in order to enrich the theater academics to conduct theater performances studies, theoretical map, structuralist, poststructuralist PendahuluanTeater tidak hanya dapat dilihat sebagai produk ekspresi tetapi juga sebagai produk produk ekspresi, teater dipandang sebagai presentasi dari diri seniman, berbagai aspek artistik yang dihadirkan menunjukkan ekspresi hal ini, pendeka-tan estetika memiliki peranan yang besar guna mengungkap wujud ekspresi tersebut. Kaji-an seputar struktur tema, plot, penokohan, teknik pemeranan, metode penyutradaraan, proses kreatif, dan lain sebagainya, menjadi persoalan yang utama dalam pendekatan es-tetika. Pendekatan ini memfokuskan kajian-nya terhadap hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera Dharsono, 20073; Suryajaya, 2016273, baik bentuk, proses terjadinya, gaya yang melekat, maupun makna di balik bentuk itu. Pendekatan estetika menitikberatkan pada hubungan antara seniman dengan karya yang diciptakannya, tanpa harus mengkaitkannya dengan sesuatu di luar kedua hal sebagai anggota masyarakat berpengaruh besar terhadap karya yang sosial dan budaya mas-yarakat di lingkungan tempat tinggal seniman turut mewarnai corak karya yang dihasil-kan. Struktur karya yang dihasilkan merep-resentasikan struktur masyarakatnya Faruk, 200313; Sahid, 200820. Dalam konteks inilah, seni teater dipandang sebagai produk produk budaya, teater tidak hanya berhubungan antara seniman dan kary-anya saja, melainkan juga aspek social dan bu-daya yang melatar belakangi penciptaan karya tidak hanya berhenti pada keindahan bentuknya saja, tetapi dilanjutkan sampai pada rumusan bagaimana bentuk-ben-tuk artistic tersebut memiliki ikatan secara so-cial dan karena itu, kajian budaya culturestudies memiliki peranan yang pent-ing dalam mengungkap hubungan ketiganya yaitu, seniman, karya, dan aspek social-budaya estetika maupun budaya Jurnal Penelitian Seni Budaya130 Volume 11 No. 2 Desember 2019selalu mengikuti perkembangan gaya teater dari masa ke masa. Setiap gaya mencipta te-ori kajiannya sendiri-sendiri, begitu pun juga dengan teater modern dramatik ataupun kon-temporer postdramatik. Teater modern tidak berbeda jauh dengan seni-seni modern lainn-ya yang mendudukkan seniman atau sutradara sebagai seorang yang jenius soliter, kebenaran karya adalah juga kebenaran seniman yang bersifat tunggal, mengutamakan makna, etika, dan moral dengan menghadirkan symbol-sim-bol yang terstruktur dan sistematis. Struktur dibangun dari unsur-unsur yang saling terkait, perubahan satu unsure akan mengakibatkan terjadi perubahan pada unsure yang lain. Oleh sebab itulah, pendekatan strukturalis dirasa lebih tepat digunakan untuk mengkaji teater modern dramatik.Berbeda dengan teater kontemporer yang lebih bersifat terbuka dan kontemporer membebaskan dirinya dari pemaknaan tunggal. Membebaskan diri dari kemacetan pada satu nilai yang semula disang-ka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjun-gkir-balik segala-galanya Wijaya, 19942. Apa yang disampaikan dalam teater kontemporer adalah nilai-nilai alternatif, nilai-nilai bayan-gan, konsep-konsep yang direkonstruksi untuk dipertimbangkan, untuk menggangu pikiran, untuk direnungkan, untuk menggoyahkan ke-percayaan, untuk apa saja selain untuk ādicam-kanā, ādihayatiā, dan ādilaksanakanā Kayam, 1985144. Teater kontemporer postdramatik dengan sifatnya yang sedemikian itu lebih tepat jika dikaji melalui pandangan dan postrukturalis awalnya adalah sebuah gerakan intelektual yang hadir di Perancis tahun 1960-an, kemudian berkembang menjadi pendekatan dalam ilmu-ilmu dari keduanya didasarkan pada struktur bahasa. Kedua aliran ini melihat bahwa setiap manusia mengetahui bagaimana caranya menggunakan bahasa meskipun mereka tidak peduli akan aturan-aturan berkenaan dengan tata bahasa. Kaum strukturalis menggunakan bahasa secara sistematis untuk menciptakan makna-makna tertentu secara disebut bermakna apabila ada keterkaitan secar fungsional di antara unsure-unsurnya, makna adalah produksi yang ditandakan, yaitu fungsi dan isinya Ratna, 200751, sedangkan postrukturalis melakukan kritik terhadap peng-gunaan bahasa yang sistematis dan fungsional postrukturalis melihat bahwa struktur yang melandasi sebuah makna bukanlah sesuatu yang tunggal, namun sesuatu yang tidak stabil dan tidak hanya dibatasi pada kata, kalimat atau teks tertentu yang bersi-fat tunggal, namun merupakan hasil hubungan antar teks yang mungkin terjadi secara acak, tumpang tindih, dan perkembangannya kedua aliran ini digunakan untuk melihat berbagai fenom-ena social, budaya, dan fenomena dipandang sebagai sebuah struktur seperti dalam sistem teater sebagai sebuah fenomena seni tidak luput dari pandan-gan kedua aliran tersebut. Aliran strukturalis mengkaji pertunjukan teater sebagai sebuah kesatuan unsure, dimana terjadi keterikatan antara tema, alur atau plot, dan penokohan, kesatuan antara ruang, waktu, dan peristiwa, serta menjadikan makna tunggal sebagai tujuan utama, sedangkan aliran postrukturalis mengkaji pertunjukan teater sebagai sebuah struktur yang bebas, dimana terjadi juxtaposisi antara tanda dan simbol, ketakstabilan makna, dan wacana atas kematian pengarang author is death.Penelitian ini hendak melakukan pen-jelajahan teoritik dari kedua aliran pemikiran tersebut, sehingga dari keduanya dapat diketahui wacana teoritiknya untuk digunakan mengkaji pertunjukan teater. Selama ini kajian terhadap pertunjukan teater yang dilakukan oleh para akademisi teater selalu berdasarkan pada pan-dangan strukturalis, mengkaji aspek bentuk, makna, dan gaya dengan mengesampingkan manusia sebagai agen pembentuk dari struktur itu. Pandangan strukturalis bersifat antihumanis, 131Wahyu Novianto Peta Teoritik Pengkajian Teater Dari Teori Strukturalis Sampai PostrukturalisVolume 11 No. 2 Desember 2019bahwa tanda itu memiliki makna saat dikaitkan dengan tanda lain dalam satu kesatuan struktur yang sistematis, bukan dari kaitannya dengan diri individu seniman. Pandangan strukturalis ini akhirnya mendasari hadirnya teori semiotika sebagai sebuah teori yang mengungkap makna dari sebuah tanda sebagai hasil hubungan an-tara penanda signiīæer dan petanda signiīæed Sahid, 20044. Kajian semiotika inilah yang selama ini membanjiri penelitian-penelitian pertunjukan teater, pada akhirnya pertunjukan teater hanya dimaknai secara tekstual akademisi teater sebenarnya mem-punyai ruang yang lebih besar untuk mengkaji teater dengan pendekatan mereka soal seni baik secara teknis maupun konseptual menjadi modal yang berharga dalam melihat setiap fenomena seni pertunjukan teater dari aspek estetis maupun ini kajian budaya terhadap pertunjukan teater justru banyak dilakukan oleh keilmuan-keilmuan lain seperti, sosiologi, sejarah, antropologi, sastra, politik, dan psikologi. Padahal dalam pandangan postrukturalis sangat memungkinkan dilakukan kajian budaya terhadap teks pertunjukan teater, dengan melihat keterkaitan antara teks yang satu dengan teks lain di luar dirinya, baik teks social, budaya, sastra, politik, dan teks-teks lain yang hadir secara acak dan tumpang tindih. Minimnya kajian budaya dengan pendekatan postrukturalis yang dilakukan oleh para akademisi teater harus menjadi perhatian utama bagi institusi pendidikan seni. Oleh karena itu, sebagai akademisi teater merasa bertanggung jawab terhadap persoalan di atas. Artikel ini mencoba untuk melakukan pemetaan secara teoritik terhadap pendekatan strukturalis dan postrukturalis, diharapkan dengan pemetaan teoritik yang dilakukan diketahui teori-teori strukturalis dan postrukturalis, sehingga peng-kajian pertunjukan yang dilakukan oleh para akademisi teater tidak hanya memandang per-tunjukan teater sebagai fenomena estetis saja tetapi juga fenomena budaya. PembahasanAnalisis teater atau analisis teks pementasan adalah proses membacaā tingkat kedua, yang umumnya didahului oleh analisis atas teks lakon atau naskah drama. Prinsip-prinsip utama yang perlu dipahami dalam analisis pementasan teater adalah pertama, pementasan teater mengandung dua teks sekaligus, yakni teks dramatik dan teks teaterikal. Kedua, karena itu, teks pementasan jauh lebih kompleks dibanding teks lakon, karena elemen yang terlibat juga jauh lebih banyak. Ketiga, berbeda dengan teks lakon yang dapat diabadikan dalam bentuk teks tertulis, teks pementasan atau teks teaterikal cenderung lesap dalam waktuā alias bersifat efemeral. Kendati dapat diabadikan dengan bantuan teknologi dokumentasi foto ataupun video, namun makna dan suasana yang muncul secara liveā melalui pementasan, tidak pernah bisa didokumentasikan atas teks lakon atau naskah drama dan analisis teks pementasan atau teaterikal dilandaskan pada premis bahwa keduanya adalah teksā alias jejaring makna yang dapat dibacaā. Analisis pementasan, oleh karena itu, adalah penilaian atau evalusi tentang sejauh mana gagasan, perasaan, atau bahkan pengalaman yang hendak dicapai oleh sebuah pementasan teater, yang bersumber dari potensi dramatik di dalam teks lakon, dapat ditangkap dan dicerap oleh penonton. Pada tataran ini kita berarti mengukur ketepatan gaya pementasan, pendekatan keaktoran, serta strategi-strategi artistik lain yang diterapkan. Oleh karena itu, analisis lakon dapat menjadi prakondisiā bagi analisis pementasan yang dapat digunakan dalam analisis pementasan teater bergantung pada beberapa faktor, yakni 1 pola hubungan antara teks lakon dengan teks pementasan; 2 kecendrungan teks pementasan itu sendiri; dan 3 posisi analis terhadap pementasan Pramayoza, 2013. Sebuah pementasan yang merupakan representasi utuh dari teks lakon mungkin memerlukan pendekatan analisis Jurnal Penelitian Seni Budaya132 Volume 11 No. 2 Desember 2019yang berbeda dengan pementasan yang hanya menjadikan teks lakon sebagai inspirasi. Di lain pihak, pementasan bergaya dramatik realisme memerlukan cara bacaā yang berbeda dengan pementasan-pementasan yang cenderung postdramatik kontemporer. Lebih jauh, pengamatan dari luarā sebagai penonton atas suatu pementasan, juga memerlukan cara analisis yang berbeda dengan pengamatan dari dalamā proses produksi sebuah pementasan. Paradigma Struktural Analisis struktural dalam pertunjukan teater berangkat dari teori struktur-tekstur dari George Riley Kernodle. Analisis tekstur-struktur menjadi penting karena analisis atas teks lakon atau naskah drama di Indonesia kebanyakan berangkat dari model yang disarankan oleh Kernodle ini. Analisis yang boleh dikatakan tradisional,ā karena paling sering digunakan ini, diperkenalkan oleh Kernodle melalui bukunya Invitation to The Theatre. Dalam uraiannya ten-tang rencana produksi,ā Kernodle 1978 265 mempromosikan cara menganalisis drama dan cara merencanakan pementasannya. Hal inilah yang kemudian dia sebut sebagai struktur dan tekstur. Secara sederhana, struktur dan tekstur dapat diandaikan sebagai hubungan antara kerangka dan tampilan luar. Analisis struktur-tekstur dapat pula dinamakan sebagai analisis struktur lakon dan analisis tekstur pementasan. Analisis tekstur pementasan meliputi tiga komponen, yakni 1 suasana atau mood; 2 tontonan atau spec-tacle kostum, rias, set, properti, pencahayaan, dan musik; dan 3 dialog Pramayoza, 2013. Perlu diingat lagi bahwa pada konteks uraian asli Kernodle, komponen-komponen ini pada dasarnya adalah sebuah rencana produksi pe-mentasan. Sehingga, dapat dipahami bahwa struktur lakon adalah aspek bentuk teks lakon dalam dimensi waktu, sedangkan tekstur adalah aspek bentuk lakon dalam dimensi ruang-waktu hal-hal yang direncanakan akan benar-benar dirasakan atau dialami oleh penonton sebagai sesuatu yang tercerap secara inderawi dilihat, didengar. Perlu pula dicatat bahwa model anal-isis ini cenderung mirip dengan model analisis dramaturgikal, karena sama-sama berangkat dari bahan-bahan analisis yang relatif sama, yang sudah tampak pada uraian sebelumnya ten-tang teks lakon. Analisis atas teks pementasan semacam itu adalah turunan atas paradigma struktural, yang mengandaikan bahwa terdapat komponen-komponen yang saling terkait di dalam drama dan atas suasana mood atau terk-adang juga dinamakan atmosīærā dari sebuah pe-mentasan, berarti mencari tahu bagaimana suatu pementasan menciptakan keadaan yang mem-buat penonton dapat ikut terlibat secara emo-sional dan emosional dan intelektual atas pementasan mengandaikan bahwa penonton dapat ikut merasakan dan me-mahami peristiwa-peristiwa pementasan. Perlu dipahami bahwa kemampuan sebuah pemen-tasan mewujudkan suasana atau atmosfir tertentu sangat bergantung pada keterampilan menciptakan pengadeganan atau mise-en-scĆØne, sebab adeganlah yang benar-benar terlihat dan terdengar oleh penonton Pramayoza, 2013.Hal ini menggaris bawahi pengertian adegan,ā atau mise-en-scĆØne sebagai aspek īæsi-kal yang tercerap secara merupakan lingkungan sekaligus ruang yang terbentuk oleh arsitektur gedung pertunjukan dan semua rancangan di atas saja, ruang atau lingkungan itu tidak lengkap tanpa kehadiran aktor dengan ekspresi tubuh dan karena itu, mise-en-scĆØne atau pengadeganan dapat dipahami sebagai totalitas yang tercipta dari ekspresi dramatik aktor dan ekspresi teaterikal pementasan teater bersifat prosesual, yakni berlangsung di dalam suasana atau atmosīær suatu pemen-tasan seharusnya juga berubah seiring waktu menciptakan suasana atau atmosīær yang berubah tersebut, setiap pemen-tasan perlu merubah mise-en-scĆØne dan lakuan 133Wahyu Novianto Peta Teoritik Pengkajian Teater Dari Teori Strukturalis Sampai PostrukturalisVolume 11 No. 2 Desember 2019dramatik, sekaligus perlu terus-menerus inilah yang perlu dianalisis manakala seseorang mengamati pementasan, yakni bagaimana mise-en-scĆØne terhubung dengan lakuan dramatik. Ketika keterhubungan itu tercipta, di mana semua elemen dari mise-en-scĆØne dan lakuan dramatik bekerja bersama, transformasi dari dunia lakonā menjadi dunia pementasanā dapat terjadi. Transformasi inilah yang pada dasarnya menciptakan pengalaman emosional dan intelektual bagi penonton, atau dengan kata lain mencetuskan makna pemen-tasan Pramayoza, 2013.Suasana atau atmosfir juga berperan dalam menciptakan nada dan selanjutnya menciptakan irama atau ritme pementasan. Irama pementasan diciptakan dengan terlebih dahulu menciptakan nada-nada. Pengertian nada di sini dapat mengacu pada suasana perasaan sehari-hari seperti rasa kasihan, kemarahan, ketakutan, harapan, kegembiraan atau putus pementasan lantas diciptakan melalui kombinasi dari beberapa nada di dalam pementasan juga dapat tercipta melalui bunyi, intonasi suara, pencahayaan, gerakan, pengaturan posisi, irama gerak, kontras, pengaturan konīik dan atau atmosfir juga dapat tercipta melalui ritme pementasan, yang mengacu pada pengunaan waktu, tempo dan kecepatan pengaturan ritme pementasan dapat diselidiki dengan memperhatikan bagaimana tempo dialog, gerakan dan perpindahan aktor atau benda diatur dalam sebuah pementasan. Tentu saja, aturan ini akan menciptakan irama yang tidak harus diterapkan secara sama di seluruh pertunjukan, melainkan dibuat dengan mengatur panjang dan pendeknya. Irama semacam ini dapat pula diatur dengan mengikuti keadaan emosional dari satu atau lebih karakter atau suasana pementasan pada momentum atas aspek tontonan spectacle yang pertama dan utama dapat dilakukan dengan memperhatikan lakuan dramatik dari para aktor. Bisa dipahami bahwa pengembangan lakuan dramatik di atas pentas oleh para aktor adalah jembatanā yang dapat menghubungkan antara dunia dramaā dengan penonton. Pengembangan lakuan dramatik tersebut secara konvensional terbagi menjadi dua pendekatan, yakni 1 representasional dan 2 presentasional. Pendekatan representasional mengandaikan bahwa kehadiran aktor di atas pentas adalah perwakilan dari karakter, di mana aktor ke luar dari dirinya dan mengisi dirinya dengan manusia lain yakni sang karakter. Sementara pendekatan presentasional mengandaikan bahwa kehadiran aktor di atas pentas adalah kehadiran dirinya sendiri, yang terkadang juga sedang menggambarkan karakter selain dirinya sendiri Pramayoza, 2013.Pengembangan tindakan dramatik oleh seorang aktor pada dasarnya dilakukan dengan memanfaatkan dua peranti, yakni 1 tubuh; dan 2 suaranya. Analisis pementasan dapat memperhatikan bagaimana ekspresi yang ditampilkan melalui dialog, mimik, gestur, dan pergerakan di atas pentas yang dilakukan seorang aktor terhubung dengan banyak hal sekaligus, yakni karakterisasi, tema, struktur plot, motivasi, hubungan antar karakter, dan sebagainya. Ekspresi atau lakuan dramatik seo-rang aktor tersebut bahkan juga menjadi peranti utama dari pengaturan ritme, kecepatan, dan irama pementasan Pramayoza, 2013. Dapat dikatakan bahwa sebagai pusat tontonan spec-tacle, tindakan dramatis dari para aktor seperti menjadi benang merahā yang menghubungkan seluruh bagian pementasan, dengan karakter yang dibawakan oleh para aktor sebagai titik fokus atau tontonan spectacle yang kedua adalah ruang pementasan, yakni bagaimana ruang pentas ditata. Bisa dipahami bahwa tubuh aktor, suara aktor, kostum, rias, set, properti, pencahayaan, musik, dan sound effekt ditempatkan di dalam ruang tersebut. Aspek ruang dapat menghadirkan makna yang berbeda melalui penataan set, properti, dan Jurnal Penelitian Seni Budaya134 Volume 11 No. 2 Desember 2019cahaya yang berbeda. Perbedaan makna ruang juga dapat timbul akibat dari penyikapan oleh seorang aktor, misalnya dengan cara duduk, membungkuk, berbaring atau merangkak. Makna ruang juga dapat berbeda manakala aktor melintasinya dengan cara dan kecepatan yang berbeda. Penggunaaan aspek ruang secara efektif, menggaris bawahi pentingnya gerakan, baik gerakan oleh aktor maupun perpindahan benda-benda. Penataan ruang juga menjadi cara sebuah pementasan berkomunikasi dengan penonton, tentang tempat atau latar di mana peristiwa berlangsung. Termasuk dalam pemahaman ini adalah perubahan lokasi kejadian dalam pementasan, yang dapat dilakukan dengan perubahan set dan properti, atau dapat pula dengan hanya menciptakan suatu efek visual yang dapat merangsang imajinasi lakuan dramatik dan pengaturan ruang adalah aspek tontonan yang bersifat īæsikal, maka terdapat pula aspek tontonan yang bersifat mental. Salah satu dari aspek tontonan yang bersifat mental dan yang paling penting adalah tensi atau ketegangan. Ketegangan dalam pementasan drama kadang-kadang disalah artikan dengan mempertukarkannya dengan konīik. Padahal, ini adalah dua aspek yang berbeda, meskipun memang saling berkaitan erat. Aspek ketegangan dalam pementasan perlu untuk membuat penonton tetap bertahan dan terlibat secara dalam dengan rangkaian peristiwa. Dapat dikatakan bahwa bangunan plot lakon mewujud dalam pementasan melalui ketegangan ini. Perkembangan ketegangan dalam pementasan biasanya sejajar dengan kemajuan plot, yang mengarah kepada krisis atau klimaks. Sumber yang dikelola sedemikian rupa dalam menciptakan ketegangan dalam pementasan tidak lain adalah konīik. Dapat difahami bahwa pementasan yang tidak memiliki konīik biasanya akan membosankan. Karena itu wajar jika konīik dianggap sebagai unsur paling penting untuk semua pertunjukan dalam drama secara umum biasanya terjadi antar karakter. Namun ada kalanya konīik hanya terjadi pada satu karakter, yang umumnya dinamakan konflik batin,ā biasanya diungkapkan melalui solilog. Konīik dalam pementasan dramatik bisa bersifat verbal, īæsik atau non-verbal psikologis, tapi yang pasti memiliki implikasi terhadap plot. Meruncingnya konīik akan menstrukturkan plot dan menghasilkan ketegangan yang menjurus kepada sebuah krisis. Krisis inilah yang merupakan momentum kunci dari ketegangan dramatis dalam pementasan, yang akan memiliki satu atau lebih puncak tertinggi, yang biasanya disebut sebagai konīik, krisis, dan klimaks dalam pementasan menggarisbawahi pentingnya pewaktuanā atau timing. Irama dan kecepatan pementasan sangat dipengaruhi oleh pengaturan waktu tersebut. Banyak pementasan gagal menghasilkan suasana dramatik karena gagal menjaga aspek pewaktuanānya. Klimaks yang terlalu cepat atau melompat, atau justru terlalu lama, akan kehilangan momentumnya. Karenanya pewaktuanā adalah aspek penting dalam pementasan kapan dan bagaimana seorang aktor muncul di pentas; kapan ketegangan dramatik perlu dikendurkan; kapan penonton diberi kejutan,ā dan lain-lain. Efek tontonan spectacle juga dapat diciptakan dengan adanya kontras. Tanpa adanya kontras sebuah pementasan akan terasa membosankan bagi penonton dan tidak punya daya tarikā yang akan membuat membuat mereka terus menonton. Sebuah contoh sederhana dari kontras adalah adegan sedih yang dibalas dengan adegan kontras dapat pula diciptakan melalui perubahan dan pengaturan intonasi suara, pengaturan ruang, pergerakan aktor, pencahayaan serta irama kontras dalam sebuah pementasan penting untuk menghindari kesimpulan monotoneā satu nada yang sering digunakan untuk menggambarkan pertunjukan yang membosankan. 135Wahyu Novianto Peta Teoritik Pengkajian Teater Dari Teori Strukturalis Sampai PostrukturalisVolume 11 No. 2 Desember 2019Analisis atas dialog dalam pementasan berkaitan dengan dua hal, yakni 1 penggunaan bahasa verbal; dan 2 penggunaan suara. Penggunaan bahasa dalam pementasan terdiri atas dua bentuk, yakni bahasa verbal dan bahasa non-verbal, namun yang dianalisis dalam hubungannya dengan dialog tentunya hanya bahasa bahasa non-verbal, yang sering disebut juga sebagai bahasa tubuhā dibahas sebagai sebagai gestur dan dinalisis bersama aspek tontonan.āNamun perlu diingat pula, bahwa sebagian penggunaan bahasa tubuhā berkaitan dengan penggunaan bahasa verbal, yakni sebagai penguat ekspresi Pramayoza, 2013.Bahasa verbal dalam pementasan adalah teks yang diucapkan, yang bersumber dari naskah drama atau teks lakon diucapkan oleh para aktor, bahasa verbal juga dapat dinarasikan seorang narator atau dinyanyikan oleh seseorang atau paduan ini dapat berpengaruh atas efek dramatik pementasan. Selain pilihan presentasinya, pilihan gaya bahasa dan diksi atau pilihan kata juga memiliki peran penting dalam pementasan. Bahasa sehari-hari, bahasa formal, atau bahasa slank bisa memiliki efek-efek tersendiri. Analisis atas dialog dapat menginvestigasi pilihan-pilihan ini. Hal yang perlu dicatat ialah bahwa dalam pementasan teater konvensional, bahasa verbal merupakan sarana utama untuk mengkomunikasikan kisah drama kepada penonton Pramayoza, 2013.Penggunaan bahasa verbal dalam pementasan sangat bergantung pada keterampilan aktor dalam menggunakan ekspresi suaranya. Jenis dan karakter suara tertentu dapat langsung mengkomunikasikan usia dan jenis kelamin. Namun penggunaan suara secara tepat bahkan dapat menciptakan efek mental dan suasana tertentu bagi penonton. Kemampuan aktor dalam membangun suara yang efektif dalam pementasan sangat bergantung pada disiplin aktor dalam melatih tubuh dan suara mereka. Hal yang patut diperhatikan ialah bahwa sembari menjaga artikulasi dan daya pada suaranya, para aktor juga harus sekaligus menciptakan aksentuasi dan intonasi yang tepat untuk menciptakan efek Poststruktural Saat ini banyak pementasan teater yang tidak berangkat dari teks lakon tertulis terlebih dahulu. Banyak pementasan yang justru men-ciptakan lakonā bersama proses penciptaan pementasan. Ada pula, yang mengambil teks lakon tertulis sekadar sebagai pemicu dalam proses penciptaan pementasan, atau menjad-ikannya sebagai bahan yang diputar-balikkan sedemikian rupa. Jika ingin dikategorisasikan, maka pendekatan yang oleh Hans-Thies Leh-mann dinamakan sebagai teater postdramatikā ini memiliki beberapa modus, yakni 1 tanpa teks lakon sama sekali; 2 mengambil teks lakon sekadar sebagai inspirasi; 3 mengambil teks lakon sebagai kutipan,ā yang digabungkan dengan kutipanā yang lain; dan 4 menjadikan teks lakon sebagai tesis yang diantitesiskan Pramayoza, 2013.Meski kemunculan pementasan teater postdramatikā yang merekomendasikan pendekatan baru atas teks lakonā ini terutama bersumber dari wacana tentang melepaskan ketergantungan teater dari sastra drama,ā namun Karen Jurs-Munby menegaskan bahwa tradisi ini tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari tradisi dramatikā alias tradisi lakon. Sebab, sebagai sebuah tradisi yang telah bercokol sekian lama, pementasan pementasan yang berangkat dari teks lakon atau naskah drama telah menanamkan suatu pola menonton. Akibatnya, kualitas dra-matik dari lakon telah menjadi prakondisiā bagi penonton setiap kali mereka datang menonton pementasan teater. Jadi, dalam pikiran penonton, tetap akan beroperasi sebuah cara membaca tradisionalā dengan mana mereka akan selalu mencari plot, karakter, tema, dan latar dari setiap pementasan Pramayoza, 2013.Karenanya, meski tidak berangkat dari teks dramatik atau yang lazim dinamakan se-bagai naskah drama atau teks lakon, namun Jurnal Penelitian Seni Budaya136 Volume 11 No. 2 Desember 2019pementasan-pementasan postdramatikā pada dasarnya tetap merupakan sebuah pementasan dramatik,ā karena paling tidak dua konsep. Pertama, karena kata dramaā dari kata Yunanai Klasik dromai semula lebih bermakna sebagai tingkah laku,ā sehingga setiap pementasan yang menjadikan tingkah laku manusiaā sebagai pokok tontonannya sejatinya adalah tontonan dramatik.ā Kedua, urutan peristiwa dalam pe-mentasan teaterikal, dengan pola dan rumusan tertentu, pada akhirnya tetap akan menimbulkan aspek teganganā dan kejutanā bagi penonton, dua kualitas yang selama ini dianggap sebagai dasar dari pengertian yang dramatikā Pramayo-za, 2013. Namun demikian, analisis lakon atau analisis drama, harus diperbaharui manakala berhadapan dengan pementasan teater dengan pendekatan postdramatikā ini, yakni dengan memahaminya sebagai wacana dramatik.ā Analisis wacana dramatik berangkat dari pe-mahaman bahwa pementasan drama atau teater sebagaimana semua teks adalah wacanaā yang berpotensi membangun berbagai pikiran, pengetahuan dan pemahaman. Menganalisis wacanaā secara umum berarti mengamati cara berīækir yang mewujud dalam bentuk bahasaā verbal maupun visual. Cara berīækirā itu sendiri mungkin tumpang tindih dan saling memperkuat satu sama lain namun juga bisa cenderung me-nutup kemungkinan bagi yang lain. Karena itu perlu dipahami bahwa setiap wacana cenderung tidak pernah netral, namun sebagai sebuah kon-īægurasi gagasan, wacana dapat mencerminkan semacam benang merah dengan mana suatu ideologi wacana dramatikā dalam pementasan-pementasan teater post-dramatikā paling tidak dapat dilakukan dengan mengamati lima komponen, yakni 1 teks; 2 ruang; 3 waktu; 4 tubuh; dan 5 media Pramayoza, 2013. Teks dalam pengertian ini, tentunya bukan teks tertulis, namun teks auditif-visual, yakni apa yang dikatakan para aktor, apa yang dinyatakan oleh tubuh mereka, apa yang dinya-takan oleh benda-benda di atas pentas, dan apa yang dinyatakan bersama oleh aktor dan ben-da-benda itu. Namun karena teks auditif-visual ini baru ada pada pementasan, maka dalam hal analisis, lakon, pengertian teks dapat digeser menjadi tema atau isu, yang sedang disikapi atau direspons melalui analisis pertama atas teater post-dramatikā adalah analisis atas wacana yang mendasari pementasan,ā yakni hal, isu, tema, atau masalah yang akan direspons melalui pementasan. Kedudukan wacana dalam pemen-tasan teater postdramatik ini, dapat dipahami sejajar posisi lakonādalam pementasan teater dramatik, karena sama-sama berfungsi sebagai titik keberangkatan atau dasar pijakan pemen-tasan. Dari pemahaman inilah kemudian dapat diuraikan hal-hal yang lain, yakni pilihan-pi-lihan atas waktu pementasan; ruang-tempat pementasan; posisi tubuh dalam pementasan; serta media yang digunakan dalam tidak terlalu sukar untuk me-mahami bahwa pilihan ruang dan waktu pemen-tasan senantiasa bernilai politisā dan karenanya berpotensi membangun wacanaā tersendiri. Acapkali pementasan-pementasan teater masa kini digunakan untukmerespon hari atau tanggal tertentu yang menumental, katakanlah misalnya hari buruh,ā hari lingkungan hidup,ā hari pen-didikan,ā dan sebagainya. Demikian pula, pili-han untuk berpentas di pelataran parkir sebuah mall akan berbeda maknanya dengan berpentas di dalam sebuah gudang tua. Berdasarkan pada pilihan-pilihan tersebut, analisis lakon atas pementasan postdramatik dapat menemukan wacana dramatikā melalui rencana produksiā dengan menanyakan 1 di mana repertoar akan dipentaskan; 2 kapan akan dipentaskan; 3 mengapa ruang dan waktu itu dipilih untuk pementasan? Pramayoza, 2013. Pengertian plot akan digantikan oleh rencana urutan peristiwa.āPencarian akan hal ini dapat dimulai dengan mempertanya-kan tentang 1 bagaimana peristiwa akan dihubungkan satu-sama lain? 2 Apakah ada 137Wahyu Novianto Peta Teoritik Pengkajian Teater Dari Teori Strukturalis Sampai PostrukturalisVolume 11 No. 2 Desember 2019peristiwa yang dipandang sebagai yang utama? 3 apakah ada peristiwa yang dianggap perlu diletakkan di awal, di tengah, atau di akhir? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dilanjut-kan dengan menginterogasi lebih lanjut tentang logika urutan peristiwa, misalnya apakah saling mengintervensi, atau dalam kaitan yang rasional, atau seperti sebuah kolase yang terpisah-pisah namun dipertemukan dalam sebuah pementasan, dan itu pengertian karakter da-lam pementasan dramatik, akan tergantikan oleh pengertian aktan,ā yakni fungsi aktor dalam pementasan. Analisis akan hal ini dapat dilakukan dengan mempertanyakan perihal 1 apakah aktor akan mewakili peran sosial tertentu? 2 apakah aktor mewakili suatu sifat atau konsep? 3 apakah setiap aktor mewakili satu peran sosial atau konsep, atau lebih dari satu? Pengertian aktanā secara langsung akan mengedepankan wacana tentang posisi iden-titas dan subjektivitas,ā yang dapat diartikan sebagai cara seseorang menjadi individu. Istilah posisi identitasādapat digunakan untuk meng-gambarkan bahwa identitas sosial tertentu yang ditempati subjek menentukan sikap dan tindakan sosial yang dilakukannya. Karena posisi identi-tasā ini dibentuk melalui wacana, maka analisis atas aktan dapat berfokus pada analisis terhadap posisi identitas aktan terhadap wacana dominan Pramayoza, 2013.Pertanyaan pertanyaan dan jawaban seputar aktanā ini akan memberi penegasan perbedaan antara konsep aktanā dengan karakter,ā dalam hubungannya dengan aktor. Jika dalam pengertian karakter,ā seorang aktor akan diarahkan untuk menjadiā dalam pen-gertian mengosongkanā dirinya sendiri, maka pengertian aktanā memberi kebebasan kepada aktor untuk memilih pendekatannya tersendiri dalam mengkomunikasikan peran sosial atau konsep tertentu. Pengertian serupa ini, dengan sendirinya membawa kembali wacana tentang v-effect dari Berthold Brecht, di mana aktor didorong untuk mencontohkanā suatu peran tanpa kehilangan dirinya sendiri. Lebih jauh, konsep aktanā ini juga akan menghadirkan wacana tentang tubuh, yakni bagaimanakah tubuh akan disikapi dalam pementasan apakah sebagai manifestasi dari emosi atau juga adalah manifestasi dari tubuh itu sendiri, yang punya jenis kelamin, warna kulit, bekas luka, tatoo, dan lain-lain? Pramayoza, 2013.Bersama dengan wacana tentang tubuh tersebut, akan mengemuka pula wacana tentang benda-benda dan peralatan atau media yang akan digunakan atau dilibatkan dalam pemen-tasan. Analisis dapat mempertanyakan tentang Mengapa benda-benda itu dipilih? Dengan cara apa ia digunakan dalam pementasan? Dari mana benda-benda itu bersumber? Apakah ada perbedaan antara penggunaannya dalam pemen-tasan dengan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari? dan sudah dapat dipahami bahwa wa-cana yang terbangun dari rajutan lima komponen tersebut di atas dalam konteks pementasan teater post-dramatik adalah pengganti dari teks lakon dalam pengertian tradisional. Hal yang menjadi konsep dari model pembacaan ini ialah pemahaman bahwa wacana adalah situs kunciā dalam pembangunan makna-makna sosial. Perlu diingat bahwa beberapa wacana menjadi lebih dominan dari yang lain. Wacana dominan atau terkadang dinamakan juga wacana mainsteam beroperasi dengan menyiapkan kerangka acuan sekaligus pelarangan, sehingga dapat meming-girkan wacana alternatif. Wacana dominan cend-erung menegaskan diri melalui pelembagaan, namun melalui wacanalah sesungguhnya kita mengambil atau menempati identitas sosial tertentu. Pementasan-pementasan teater post-dramatikā umumnya berdiri sebagai wacana alternatifā yang bermanfaat untuk bereīeksi atas wacana dominan teater dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu, dramatik dan dramatik didasarkan pada Jurnal Penelitian Seni Budaya138 Volume 11 No. 2 Desember 2019teks lakon atau drama, bahasa yang disampaikan verbal, memiliki struktur yang ketat dimana setiap unsur-unsurnya saling terikat, perubahan satu unsure akan mengakibatkan terjadi perubahan pada unsur yang lain. Sedangkan teater postdramatik tidak lagi didasarkan pada teks lakon atau drama, teks tidak lagi dimaknai sebagai lakon atau naskah, namun semua fenomena adalah teks. Bahasa yang disajikan simbolik baik melalui dialog maupun gerak tubuh. Struktur dalam teater postdramatik tidak lagi memiliki ikatan yang ketat, unsure-unsurnya dapat berdiri sendiri terlepas dari unsure yang lain, oleh karena itu pemaknaan teksnya pun dapat dibaca secara mandiri. Dramatik dan postdramatik dilihat dari bagaimana teks pertunjukan tersebut disajikan. Penyajian teks pertunjukan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan struktur kebahasaan, bagiamana teks pertunjukan tersebut disusun kemudian disajikan. Pola susunan itulah yang kemudian dijadikan dasar apakah pertunjukan tersebut berbentuk dramatik atau postdramatik. Dramatik selalu memliki pola susunan yang teratur, sistematis, dan verbal, sedangkan postdramatik disusun dengan pola yang acak, tumpang tindih, dan simbolik. Oleh karena itu, kajian teater dramatik melalui pendekatan strukturalis, sedangkan kajian teater postdramatik melalui pendekatan poststrukturalis. Pendekatan strukturalis dan postrukturalis memiliki teori dan metode masing-masing. Kemunculan dari kedua pendekatan ini memiliki hubungan yang erat dengan zaman atau era. Strukturalisme adalah anak dari era modernisme, sedangkan postrukturalisme adalah anak dari zaman postmodernisme. Oleh karena itu, teori-teori strukturalisme dibangun dengan nalar modern rasionalistik, objektif, dan universal. Sedangkan teori-teori postrukturalisme dibangun dengan nalar postmodernisme emosional, subjektif, dan metaīæsik. Maka dapat diketahui bahwa dramatic dan strukturalis adalah paradigma modern, sementara postdramatik dan poststrukturalisme adalah paradigma postmodernisme. KepustakaanDharsono, Estetika, Bandung Rekayasa Sains, 2007. Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, Yogyakarta Pustaka Pelajar, Umar, āNilai-Nilai Tradisi, dan Teater Kontemporer Kitaā dalam Menengok Tradisi Sebuah Alternatif Bagi Teater Modern. Penyunting Tuti Indra malaon, Afrizal Malna, dan Bambang Dwi. Jakar-ta Dewan Kesenian Jakarta, George R., Invitation to the Theater, Harcourt Brace Jovanovich; Brief 2nd edition, 1978. Pramayoza, Dede., Dramaturgi, Bahan Kuliah Prodi Teater ISI Padang Panjang, Nyoman Kutha, Estetika Sastra dan Bu-daya, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2007. Sahid, Nur, Semiotika Teater, Yogyakarta ISI Yogyakarta, 2004. _________, Sosiologi Teater, Yogyakarta Pra-stista, 2008. Suryajaya, Martin, Sejarah Estetika Era Klasik Sampai Kontemporer, Jakarta Gang Ka-bel 2016. Wijaya, Putu, āKontemporerā, dalam Jurnal SENI edisi IV/01 ā Januari 2994, Yogya-karta BP ISI Yogyakarta, 1994. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this DharsonoDharsono, Estetika, Bandung Rekayasa Sains, to the TheaterGeorge R KernodleKernodle, George R., Invitation to the Theater, Harcourt Brace Jovanovich; Brief 2nd edition, 1978.
Kreasi seni rupa murni, desain, dan kriya yang menegaskan kreativitas, sangat memerlukan keberanian bereksperimen. Ada perupa yang bereksperimen dalam presentasi bentuk seni menciptakan bentuk yunior, darurat perupa lain bereksperimen dalam memilih dan mengkombinasikan aspek konseptual penciptaan seni. Penciptaan seni rupa murni merupakan kegiatan berkarya seni lukis, seni patung, seni grafis, seni kawul, dan enggak-bukan, bagi membeberkan pikiran, perhatian, dan asam garam kehidupan menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistik. Kepekaan artistik mengandung arti, memerlukan kemampuan mengelola atau mengorganisir elemen-elemen visual lakukan membentuk gagasan menjadi karya positif. A. Aspek Konseptual Aspek contoh dalam rakitan karya seni rupa putih gandeng dengan konsep-konsep penciptaan sebuah karya seni rupa itu sendiri. Aspek konseptual ini suntuk berwibawa terhadap hasil karya seni yang akan dibuat maupun diciptakan. Aspek konseptual penciptaan karya seni rupa safi terdiri dari penemuan sumur inspirasi, penetapan interes seni, penetapan interes bentuk, dan penerapan mandu tulangtulangan. 1 Penemuan Sumber Inspirasi Sumber inspirasi dalam penemuan karya seni sangatlah luas dan bebas, dempang semua hal yang dapat dilihat dan dipikirkan memiliki potensi dan pesona cak bagi digubah menjadi karya seni. Sejumlah seniman ingin diakui keberadaan diri dan karya-karyanya, ialah dengan menyodorkan karakter, gaya yang berbeda n domestik mengungkapkan tolak rakitan karya seni rupa sejati ialah penemuan gagasan. Kita harus memiliki gagasan nan jelas dalam mengekspresikan camar duka artistik. Sumber-perigi gagasan intern penciptaan karya seni rupa antara lain misal berikut. Berasal dari realitas internal, perambahan kehidupan spiritual psikologis kita sendiri. Misalnya pamrih, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian dan camar duka-pengalaman rohaniah lain yang kadangkala belum teridentifikasi dengan bahasa. Dengan kata lain, gagasan seni timbul dari kebutuhan kita sebagai manusia cak bagi berekspresi. Berasal terbit realitas eksternal, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan tema religius, perantaraan pribadi kita dengan sesama tema sosial keadilan, kemiskinan, nasionalisme, koneksi pribadi kita dengan bendera tema lingkungan, keindahan standard dan lain sebagainya. 2 Penetapan Interes Seni Arti kata interest intern bahasa Indonesia adalah pikiran atau minat. Dalam hubunganya denga seni rupa pembukaan interes dapat diartikan sebagai minat terhadap seni rupa. Dalam aktivitas penciptaan kita harus boleh menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat bekerja secara optimal. Pada dasarnya terdapat tiga interes seni yaitu ibarat berikut. Interes pragmatis, menurunkan seni sebagai perangkat pencapaian tujuan tertentu. Misalnya harapan kewarganegaraan, moral, politik, dakwah, dan lain-enggak. Interes reflektif, menempatkan seni sebagai pencerminan realitas konkret fakta dan permakluman sukma dan realitas niskala realitas nan kita bayangkan misal sesuatu yang contoh. dan Interes estetis, berupaya melepaskan seni dari biji-biji pragmatis dan instrumentalis. Jadi interes estetis mengeksplorasi angka-nilai estetik secara mandiri seni kerjakan seni. Dengan menetapkan interes seni, kita akan lebih memahami pamrih kita menciptakan karya. 3 Penetapan Interes Rencana Interes lembaga merupakan keterterikan terhadap gambar-tulangtulangan karya seni rupa tulen. Untuk . menyusun penghayatan poin-angka dalam atau eksternal dengan tuntas, perlu mempertimbangkan kecondongan umum minat dan selera seni kita koteng. Misalnya kita dapat mencermati karya-karya nan telah kita buat sejauh studi. Gaya yang dapat dipilih privat reka cipta karya seni rupa tahir adalah Bentuk figuratif, yakni karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, sosok, hewan, tumbuhan, jabal, laut dan tidak-tak yang digambarkan dengan cara mencontoh rupa dan warna benda-benda tersebut. Bentuk semi konotatif, yakni karya seni rupa nan secabik metaforis, masih menggambarkan figur maupun kenyataan alamiah, namun bentuk dan warnanya telah mengalami distorsi, deformasi, stilasi, oleh pelukis. Jadi rangka tidak meniru rupa sesungguhnya, doang dirubah untuk kepentingan pemaknaan, misalnya, bentuk badan turunan diperpanjang, alias patung batara yang bertangan banyak, susuk gunung atau arsitektur yang disederhanakan atau digayakan untuk mencapai efek estetis dan artistik. Rajah nonfiguratif, adalah karya-karya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk-rangka saintifik, jadi tanpa figur atau tanpa mangsa risikonya disebut juga seni rupa non adil. Karya-karya seni rupa non alegoris, jadinya merupakan susunan unsur-partikel visual yang ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan satu karya yang sani. Istilah bukan menyebut karya seni rupa non metaforis adalah karya seni eksemplar. 4 Penetapan Pendirian estetik Pada umumnya karya seni rupa murni menganut prinsip estetika tertentu. partikel estetik, ialah azas atau prinsip buat mengubah atau merencana dalam proses mencipta nilai-nilai estetik dengan penerapan anasir-unsur senirupa. Rumusan prinsip estetik merupakan hukum atau prinsip seni yang berfungsi andai sumber acuan dalam berkarya seni rupa. Tiap bangsa dan tiap zaman pada hakekatnya memiliki syariat seni yang berbeda. Sendiri perupa harus bisa mengenali cita rasa keindahan yang tertuju pada karya-karya nan sangkut-paut kita ciptakan. Puas tahap ini, perlu menetapkan prinsip estetika yang paling sesuai buat mengekspos pengalaman kita. Alternatif prinsip estetika yang dapat dipilih privat penciptaan karya seni rupa murni ialah ibarat berikut. Pramodern adalah kaidah estetika yang memandang seni sebagai aktivitas menyimbolkan tulangtulangan-kerangka pan-ji-panji, atau aktivitas pelestarian pendirian estetik tradisional Modern yaitu mandu estetika nan memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan tendensi pribadi atau personality. Posmodern adalah kaidah estetika yang memandang seni laksana aktivitas permaianan tanda yang hiperriil dan ironik, sifatnya pilih-pilih meminjam dan memadu mode seni lama dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini. B. Aspek Optis Aspek visual dalam karya seni rupa suci merupakan aspek nan berbimbing dengan wujud karya seni rupa. Wujud karya seni rupa dapat direspon oleh indera insan. Seni rupa adalah wujud hasil karya hamba allah yang bisa dinikmati melampaui indara penglihatan visual. Aspek visual privat karya seni rupa terapan terdiri bermula struktur visual, komposisi, dan mode pribadi. Struktur Visual. Untuk mewujudkan aspek hipotetis menjadi karya visual, perlu ditegaskan lebih spesifik intern subject matter, masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan. Misalnya tema sosial kemiskinan, dengan pilihan bulan-bulanan pengemis. Tema bantahan dengan sortiran alamat Paduka Diponegoro, tema religius lukisan kaligrafi dengan objek ayat tertentu, dan tak sebagainya. Objek-objek tersebut dapat divisualisasikan dengan majemuk cara, pilihlah molekul-zarah rupa garis, warna, tekstur, bidang, piutang, ruang, sesuai dengan kebutuhan interes seni, interes bentuk dan pendirian estetika yang telah ditetapkan dalam aspek ideal. Tata letak. Hasil seleksi unsur-unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik terhadap setiap unsur secara khas maupun intern hubungannya dengan kerangka atau warna. Dengan memperhatikan empat prinsip pokok komposisi, yaitu proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan bakal memperlihatkan karakteristik keunikan pribadi kita. Tendensi pribadi. Dalam invensi karya seni, karakteristik atau ciri khas seorang perupa yaitu faktor bawaan, nan men sifat unik karya yang diciptakannya. Misalnya Raden Saleh, Basoeki Abdullah dan S. Soedjojono, meskipun sama-seimbang melukis dengan gaya realisme, karyanya akan sangat berlainan karena partikel gaya pribadi. Karya Raden Saleh menghadirkan suasana dramatis aristokratis, karya Basoeki Abdullah ogok idealisasi keindahan yang permai, sementara itu karya S. Soedjojono menghadirkan suasana heroisme dan nasionalisme. Dalam aktivitas pendedahan seni rupa, tren pribadi akan makin mudah terlihat apabila kebebasan berkreasi diberikan, sehingga karya-karya siswa dengan sendirinya memperlihatkan macam mode seni sesuai kepribadiannya masing-masing. C. Aspek Operasional Aspek operasional berkaitan dengan proses kreasi sebuah karya seni rupa. Sebuah karya seni dihasilkan melalui sejumlah tahap yang harus dilalui. Langkah-langkah kerja dalam keseluruhan proses perwujudan karya dimulai dari penetapan bahan, peralatan terdahulu dan simpatisan, serta teknik-teknik n domestik memperlakukan bahan dengan peralatannya. Seluruh proses dikelompokkan ke dalam tiga tahap Tahap persiapan. pengadaan dan pengolahan bahan terdahulu, bahan pendukung, dan pengadaan peralatan. Tahap Pelaksanaan, berkenaan dengan asam garam berseni, aktivitas proses kreasi dari awal sampai selesai. Tahap penutup, karya seni rupa nan sudah diciptakan, masih membutuhkan tindakan-tindakan spesifik kendati siap dipamerkan. Tipe karya seni rupa tertentu memerlukan pembersihan menyeluruh, lapisan pengawet coating, atau lembaran gelas dan bingkai. Macam tak membutuhkan kemasan. Semuanya harus digarap dengan baik, sampai sebuah karya seni rupa dikatakan siap pamer.
PENGKAJIAN PENGKAJIAN SENI RUPA Seni rupa adalah salah satu cabang dari seni supaya bisa menghasilkan suatu karya seni yang kualitas dan juga ekspresinya bisa dirasakan oleh indra manusia, khususnya untuk indra penglihatan dan juga indra peraba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seni rupa adanya suatu jenis seni yang lebih menekankan kepada bentuk keindahan secara visual dibandingkan dengan kegunaan indra yang lain. Di dalam bahasa Inggrisnya, seni rupa ini biasa dikenal dengan fine art. Pengkajian seni rupa dengan pendekatan saintifik mengamati, menanyakan, menalar dan menyajikan dapat ditinjau melalui 4 aspek 1. Aspek visual menguraikan keberadaan seni rupa dengan kata. Aspek visual dalam karya seni rupa murni adalah aspek yang berhubungan dengan wujud karya seni rupa. Wujud karya seni rupa dapat di respon oleh indera manusia. Seni rupa adalah wujud hasil karya manusia yang dapat dinikmati melalui indera penglihatan visual. Aspek visual dalam karya seni rupa terapan terdiri dari struktur visual, komposisi, dan gaya pribadi. 2. Aspek proses kreasi menguraikan tahapan teknis, penciptaan, skill atau keterampilan. 3. Aspek konseptual menentukan inspirasi atau gagasan. Aspek konseptual dalam penciptaan karya seni rupa murni berhubungan dengan konsep-konsep penciptaan sebuah karya seni rupa itu sendiri. Aspek konseptual ini sangat berpengaruh terhadap hasil karya seni yang akan dibuat atau diciptakan. Aspek konseptual penciptaan karya seni rupa murni terdiri dari penemuan sumber inspirasi, penetapan interes seni, penetapan interes bentuk, dan penerapan prinsip bentuk. 4. Aspek kreativitas tingkat pencapaian kreativitas. kreatifitas yang dimaksud di sini adalah kreatifitas yang bersangkutan dengan karya cara untuk menemukan kreatifitas ,misalnya dalam penggunaan media,bahan,alat,dan teknik yang berbeda dari yang sebelumnyam. Kreatifitas juga bisa didapat dengan menampilkan bentuk bentuk baru atau memadukan unsur baru dengan yang lama. Keramik ialah berbagai macam benda yang dibuat dari bahan-bahan anorganik yang berasal dari bumi, yang secara umum disebut tanah liat, dan melalui proses pembakaran dengan suhu cukup tinggi akhirnya menjadi keras dan awet. Dikenal adanya tiga kualitas keramik, yang dihasilkan dari perbedaan komposisi unsur-unsur bahan dan suhu pembakaran yang lebih rendah atau tinggi, yaitu gerabah lunak yang juga disebut earthenware atau aardewerk, benda batu atau stoneware, dan porselen. Kualitas kramik 1. Gerabah lunak 2. benda batu 3. porselen Kubisme cukup konsisten dalam penggarapan objek dan latar belakangnya, penggunaan warna dipikirkan secara rasional, dengan menselaraskan objek dengan latar belakangnya. Pada karya But Muchtar kehadiran objek sudah demikian tersamar dalam kesatuan kepingan komposisis bidang-bidang warna. 1. Tema alam,benda,manusia,dan lingkungan 2. Warna,garis,bentuk,dan komposisi. 3. Pengaruh lingkungan sosialsebelum/ sesudah perang. Postingan populer dari blog ini ALIRAN REALISME Pengertian Aliran Realisme Realisme adalah aliran seni yang mengangkat peristiwa keseharian yang dialami oleh orang kebanyakan. Istilah realisme pada aliran ini bukan metujuk pada tingkat kemiripan atau keakuratan gambar lukisan dengan referensinya. Ciri Aliran Realisme peristiwa keseharian yang dialami oleh orang kebanyakan. masyarakat dan situasi kontemporer yang nyata dan khas dengan lingkungan keadaan sehari-harinya. realis menggambarkan manusia dari semua kelas dalam situasi dan kondisi aslinya. tidak setuju terhadap subjek seni yang dibesar-besarkan dramatis ala Romantisisme. detail gambar yang menyerupai aslinya natural melalui teknik tinggi yang dikuasai oleh pelukisnya. Basuki Abdullah yang lahir di surakarta jawa tengah pada tanggal 25 januari 1915, seorang pelukis terkenal di indonesia beraliran realis serta terkenal sebagai pelukis di istana merdeka jakarta yang karya-karya nya me Seni rupa Pengertian seni rupa Seni rupa adalah cabang kesenian yang membentuk sebuah karya seni dengan menggunakan media yang dapat ditangkap secara kasat mata dan juga dapat dirasakan ataupun disentuh dengan indera peraba. Unsur Unsur Seni Rupa 1. Titik Merupakan unsur yang paling kecil dan merupakan sebuah dasar dari segala ide seni yang akan di ciptakan. 2. Garis Garis menjadi unsur penggabung dari sebuah titik, secara umum, garis itu ada banyak macamnya di mana setiap garis yang di ciptakan akan membentuk suatu watak dan ciri khas yang bisa menjelaskan suatu maksud dari hasil karya apakah itu bersifat keras, lentur, kaku dan lain sebagainya. 3. Bidang Merupakan sebuah pengembangan dari garis-garis yang jika di gabungkan akan membentuk beberapa sisi dalam hasil karyanya. 4. Bentuk Unsur inilah yang memberikan sebuah karya seni menjadi lebih hidup dengan berbagai sentuhan dan detail yang sempurna sehingga bisa menghasilkan sebuah karya seni yang indah. 5. Ruang Merupakan unsur ya