Unduhfoto Seorang Tukang Kebun Wanita Muda Asia Merawat Tanaman Di Kebun ini sekarang. Dan cari lebih banyak gambar stok bebas royalti yang menampilkan 30-34 tahun foto yang tersedia untuk diunduh dengan cepat dan mudah di perpustakaan iStock.
Dilansirdari Encyclopedia Britannica, seorang tukang kebun yang hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, berhasil menyekolahkan anaknya menjadi seorang arsitek, merupakan contoh dari mobilitas antar generasi.
Tagoreatau dengan nama lengkap Rabindranath Tagore merupakan tokoh penyair asal India yang hidup pada 1861-1941. Ia mempunyai banyak karya dan salah satunya adalah Tukang Kebun, hasil terjemahan Hartojo Andangdjaja cetakan ketiga (1997), Rosdakarya, Bandung.. Saya menemukan suatu pemahaman baru tentang bagaimana Tagore dalam bukunya Tukang Kebun, melalui kumpulan syair-syair yang banyak
dcwHE. Beranda • Histeria Sejak muda hingga berkuasa, Bung Karno terus menjalankan hobi berkebun. Kesenangan itu pernah membuatnya sial di Istana Tampaksiring. Bung Karno dan Ibu Fat berkebun di rumah Jalan Pegangsaan 56, Jakarta. repro "Suka-Duka Fatmawati Sukarno Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i Mendiang Kolonel Purn. Maulwi Saelan menjadi saksi bagaimana Presiden Sukarno amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, setiap hari Bung Karno selalu meluangkan waktu untuknya. “Itu pohon beringin yang di Istana dia yang tanam,” ujarnya kepada Historia beberapa tahun lalu. Kegiatan berkebun Bung Karno biasa dimulai pada pagi setelah sarapan. Kolonel KKO Bambang Widjanarko menjadi salah satu yang sering diminta Bung Karno menemaninya keliling memperhatikan tanaman di taman-taman Istana. Bambang menyatakan dalam Sewindu Dekat Bung Karno, Bung Karno akan marah bila mendapati ada pohon yang tak terawat atau rusak. Biasanya tukang kebun yang kebagian jatah merawat pohon yang kedapatan tak terawat akan langsung dipanggil dan diperintahkan untuk segera membenahi pohon itu. Berkebun merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai dan rutin dilakukan Bung Karno. Sewaktu menjalani pembuangan di Ende, Flores, Bung Karno bersama Inggit istrinya menanami pekerangan rumahnya dengan sayuran. Dengan begitu Bung Karno bisa membunuh kejemuan di tempat pembuangan yang sepi sekaligus mencukupi kebutuhannya di tengah melompongnya kantong. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Kegiatan itu terus berlanjut ketika Bung Karno tinggal di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Pohon-pohan yang ditanam dan dirawat bersama Ibu Fatmawati saban hari diperhatikan Bung Karno. Tukang kebun yang diupah membantu akan kena marah bila tak merawat pohon-pohon dengan serius. Pernah suatu kali Bung Karno memarahi tukang kebun karena kedapatan tak menuruti arahannya sehingga membuat pohon menjadi merana. Kebiasaan berkebun Bung Karno tetap berlanjut ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta pada 1946. Pun ketika mengalami pembuangan di Berastagi, Sumatera Utara. Di sana, Bung Karno sempat menanam pohon beringin di tempat pembuangannya. Setelah pemerintahan kembali ke Jakarta, berkebun kembali dilakukan Bung Karno di kompleks istana. Namun, kegiatan itu tak hanya dilakukan Bung Karno di istana Jakarta. Istana Tampaksiring di Bali pun tak luput jadi tempat berkebun Bung Karno. Hal itu disaksikan antara lain oleh Horst Henry Geerken, perwakilan perusahaan Telefunken di Jakarta, yang sering diundang Bung Karno. Geerken menuliskannya dalam memoar berjudul A Magic Gecko Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno. “Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istanan dengan tangannya sendiri,” kata Geerken. Karena berkebun itu pula Bung Karno suatu hari mendapat sial. Suatu pagi ketika langit masih gelap, Bung Karno melihat sebuah kebun yang tak mendapat perawatan semestinya. Masih dengan pakaian seadanya, dia pun tergerak menanganinya. Namun di tengah aktivitas itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya disertai suara seorang pria. “Hei, itu tanah saya!” kata pria bernama Made Galang itu yang diwawancara Geerken saat berusia 82 tahun. Bung Karno yang kaget lalu menoleh. Begitu mata kedua pria itu saling bertemu, Made langsung syok. Dia tak menyangka tukang kebun yang diperingatinya ternyata presidennya. Bung Karno tak sedikitpun marah dan hanya mengatakan, seperti dikutip Geerken, “Saya mau tolong saja.” Namun tetap saja hal itu membuat Made amat malu dan merasa bersalah. TAG sukarno, maulwi-saelan
Vancouver - Eric Manu pindah ke British Columbia pada 2012, setelah menikahi seorang perempuan Kanada yang ditemuinya di Ghana. Di negeri orang, pemuda yang kini berusia 32 tahun itu bekerja menata taman atau nasib berkata lain. Pamannya yang menjabat sebagai kepala suku meninggal dunia dua tahun lalu. Dan, pada musim panas 2015, panggilan telepon dari kampung halaman mengubah hidupnya. Para tetua adat memintanya menjadi pewaris takhta. Awalnya, Manu menolak. "Aku terlalu muda untuk itu," kata dia kepada Global News. Namun, warga adatnya yakin bahwa sudah takdirnya menjadi pemimpin. Guru Ini Pelihara 18 Anak Anjing di Kelas, Baik untuk Perkembangan Siswa 6 Potret Orang Selfie Ini Bikin Enggak Habis Pikir, Posenya Absurd 6 Fakta Unik Boneka Barbie, Sudah Ada Sejak 1959 Setelah pikir-pikir, Manu kemudian melapor ke bosnya, Susan Watson. Ia bahkan mengundang perempuan itu di acara penobatannya. Akhirnya, Manu pun kemudian dimahkotai sebagai pemimpin Suku Akan di Desa Adansi Aboabo Nomor 2 di Ghana selatan tahun lalu. Hanya sebentar duduk di singgasana, Manu kembali ke Kanada. Ia juga meneruskan pekerjaannya. Raja yang menjadi seorang tukang kebun. Sehari-hari, ia mengayunkan cangkul, menyingkirkan gulma, serta menanam dan menata tumbuhan."Terkadang, saat aku menjalankan tugas, orang-orang bertanya, 'Anda kan seorang kepala suku. Aku melihatmu di TV, Mengapa Anda jadi tukang kebun?'" kata Manu kepada CTVNews, seperti dikutip oleh pada Kamis 22/9/2016. "Ini adalah wujud dari keinginanku untuk tetap rendah hati. Kapan pun berada di Kanada, aku bangga bisa bekerja untuk bosku." Manu rela menyingkirkan egonya sebagai pemimpin demi mengumpulkan uang untuk memperbaiki layanan kesehatan bagi rakyatnya di Ghana yang berjumlah 6 ribu. Manu dan bosnya, Susan Watson, mendirikan Yayasan To the Moon and Back mengirimkan kontainer berisi obat-obatan, alat-alat sekolah, dan pakaian yang tiba di Ghana musim semi ini. Yayasan tersebut terus mengumpulkan uang dan donasi, berharap bisa mengirimkan kontainer kedua berisi peralatan untuk meningkatkan kualitas klinik lokal. "Desanya sungguh miskin. Klinik di sana hanya punya satu bidan, sejumlah perawat, tapi sama sekali tak ada dokter," kata Watson. Manu bertekad melakukan segala macam cara untuk menyejahterakan rakyatnya. "Aku ingin rumahku, desaku, menjadi 'Kanada kedua'."Montir yang Jadi RajaMeski menjadi raja di Ghana dan Togo, Chepas Bansah memilih tinggal di Jerman Raja Bansah atau Togbe Ngoryifia Céphas Kosi Bansah memerintah wilayah tradisional Gbi di Hohoe, hanya terdiri atas 200 ribu orang. Namun, pria itu juga menjadi tetua dan pemimpin spiritual masyarakat Ewe. Itu berarti, ia menjadi panutan sekitar 2 juta orang di sang raja tak tinggal di Ghana atau Togo. Ia menetap di Ludwigshafen, Jerman. Di rantau, ia menjalani kehidupan kehidupan keduanya? Sebagai mekanik di bengkel. Pada 1970, Céphas Bansah-demikian ia akrab dipanggil-dikirim ke Jerman oleh kakeknya yang menjabat sebagai raja di Hohoe. Di Bundesrepublik Deutschland ia belajar menjadi studinya berakhir, Bansah telanjur betah. Ia memutuskan untuk tinggal. Di Jerman, ia akhirnya membuka bengkel, menikah dengan gadis setempat, menjalani kehidupan yang tenang dan hari, pada tahun 1987, lembaran faks dari Ghana mengubah dalam kertas itu, sang kakek mangkat. Ayah dan kakak tertuanya tak berhak mewarisi takhta. Alasannya, keduanya kidal-yang dianggap "tak suci" oleh masyarakat tak mau, Bansah harus menjadi raja. Pria yang kini berusia 67 tahun itu menerimanya dengan alasan ingin berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan rakyatnya. Namun, pria itu tak mau setiap harinya, ia bekerja dari pukul di bengkel, sebagai mekanik yang memperbaiki mobil. Sementara, ia menjalankan roda kerajaannya lewat telepon, e-mail, dan belakangan Skype. Seperti dikutip dari Vice, Raja Bansah pergi ke Ghana beberapa kali dalam setahun. Seringkali, kepulangannya yang sementara disertai istrinya yang berasal dari Jerman, jauh ditempuh agar ia bisa menampung aspirasi Ghana menganut sistem pemerintahan yang demokratis sejak 1992, para raja tradisional tetap memiliki peran penting sebagai mediator dan pengurus banyak Bansah membangun sejumlah sekolah, jembatan, dan sumur. Ia juga mendonasikan pompa air dan kendaraan bagi mengumpulkan dana, ia tak canggung menjadi penyanyi, tampil di televisi, dan acara-acara publik di juga menjual bir produksinya sendiri, Akosombo- meski ia tak pernah menenggak alkohol dalam hidupnya.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
- Menuntut ilmu merupakan hak setiap insan. Tua maupun muda seharusnya memiliki kesempatan sama untuk menempuh pendidikan. Tidak terkecuali tukang kebun berhak juga menyandang gelar akademik. Kisah tukang kebun bisa tempuh pendidikan tinggi nyata adanya di Afrika Selatan. Lukhanyo Mafu resmi menyandang gelar sarjana ilmu sosial di Universitas Fort Hare UFH. Menariknya, kampus tersebut adalah tempatnya selama tujuh tahun ini bekerja sebagai tukang kebun. Dalam video yang dilansir Now This News, kelulusan Lukhanyo disambut dengan tepuk tangan meriah para wisudawan lainnya. Apalagi, ia mewujudkan cita-cita lamanya pada usia 39 tahun, lebih tua dari usia rata-rata para mahasiswa S1 lainnya. foto Mimpinya bisa terwujud berkat bantuan salah seorang staf akademik UFH, Awonke Tshefu. Ia meminjamkan 200 Rand atau sekitar Rp 200 ribu untuk membayar biaya pendaftaran pada 2014. Namun, aplikasi Lukhanyo ditolak saat itu. Ia tak menyerah, kembali mendaftar dan berhasil masuk kampus tempat kuliah Nelson Mandela dan Robert Mugabe, dua tokoh terhormat di Afrika Selatan. "Aku menunjukkan sertifikat matrikulasiku dan mengungkapkan mimpiku untuk menjadi pekerja sosial suatu hari nanti. Dia memberiku 200 Rand dan di sinilah aku sekarang," ujar Lukhanyo kepada foto Upah sebagai tukang kebun yang hanya sekitar USD 5 dolar per bulan hanya cukup untuk hidup sehari-hari. Beruntung, ia dibantu National Aid Financial Student Scheme untuk membiayai kuliahnya. Perjalanan hidup Lukhanyo berliku. Selepas SMA, pada 1999, ia merantau dari sebuah desa di Gaga Skolweni, Alice, menuju Cape Town, demi memperoleh pekerjaan. Dua tahun bergelut di kota besar, ia ditangkap polisi atas kejahatan yang hingga kini tak pernah diakuinya. Dia divonis 15 tahun penjara dan harus menjalani kehidupan sebagai narapidana di Penjara Pollsmoor, penjara yang disebut paling menakutkan di Afrika Selatan. "Lalu aku dipindahkan ke Penjara Middledrift," ujarnya. Pada 2011, ia dibebaskan dan memilih kembali ke kampung halamannya di Alice. Ia pun mencari pekerjaan demi membantu keluarga yang ditinggalkannya bertahun-tahun. "Pada 2012, aku dapat pekerjaan sebagai tukang kebun di Fort Hare," sambungnya. foto Seminggu sebelum Lukhanyo lulus, sang ayah meninggal dunia. Karena itu, acara wisudanya hanya dihadiri oleh adik, kakak, dan kerabatnya saja. "Ibuku tak hadir karena masih berduka atas kematian ayahku," ujarnya. Hingga akhir pekan lalu, ia masih sibuk menyiapkan acara pemakaman untuk ayahanda. Di sisi lain, ia berharap gelar yang berhasil diraihnya itu bisa membuka jalan untuknya membelikan rumah yang layak bagi keluarga. "Yang aku inginkan hanyalah ibu dan saudara-saudaraku bangga padaku lewat pekerjaan layak yang bisa kudapatkan dan membangun rumah yang layak bagi mereka," ujarnya sambil berharap status mantan napi tak menghalanginya di depan nanti. brl/red Recommended By Editor 3 Orang Indonesia ini kalau berangkat kerja naik helikopter 4 Manusia ini hidupnya di pohon, salah satunya suku dari Indonesia 8 Penampilan Angkie Yudistia setelah berhijab, memesona Kisah Marinir diapresiasi bubarkan massa Aksi 22 Mei dengan damai 5 Fakta Mario Ho, anak raja kasino lamar pacar pakai mawar